Delapan Buku Pengantar untuk Meruntuhkan Mitos Bahwa Jurnalisme Harus Netral
Nama : Bima Febrianto
kelas : 2MA06
NPM : 11819357
Salah satu topik yang meresahkan ketika mendiskusikan jurnalisme adalah konvensi arus utama yang memfatwakan bahwa media harus netral. Pasalnya, anggapan semacam itu sering digunakan untuk mendelegitimasi media-media yang liputannya kritis. Semua berangkat dari asumsi bahwa media harus netral, tak boleh punya sikap, apalagi oposan terhadap kekuasaan elite
Banyak
sekali pegiat jurnalisme mendikte bahwa jurnalisme haruslah bersikap netral.
Sikap netral diperlukan agar media/pers dapat memberi ruang yang sama bagi
belah pihak dalam isi berita tersebut (cover both side).
Bagi
saya ini adalah sebuah pandangan semu yang bersifat tabu. Sikap netral ini
menjadi bias karena secara langsung menghilangkan nilai dari essensi berita
tersebut.
menghilangkan
nilai? apa yang dimaksud?
saya
beri contoh: saya adalah seorang jurnalis. Ada dua orang (sebut A dan B) datang
ke ruangan saya dan berkata:
A:
di luar sana hujan
B:
di luar sana panas
nah,
disini saya sebagai jurnalis tak hanya menulis “di luar hujan dan panas”,
tetapi harus juga bersikap adil, untuk membuktikan bahwa: di luar panas atau
hujan. itu lah hasil. yang mungkin saya sebut sebagai ‘nilai’.
Artinya
bahwa jurnalisme netral ialah mitos. jika ia netral samadengan ia tak berjalan.
tak berguna. kata netral adalah makna lain dari berpihak pada yang salah.
Komentar
Posting Komentar